WhatsApp Icon
Infak dan Sedekah, Apa Bedanya?

Infak dan sedekah merupakan dua istilah yang sangat dekat dengan kehidupan umat Islam. Keduanya sama-sama mencerminkan kepedulian, keikhlasan, dan semangat berbagi kepada sesama. Meski sering digunakan secara berdampingan, infak dan sedekah memiliki pengertian serta cakupan yang berbeda.

Memahami perbedaan keduanya penting agar masyarakat dapat mengamalkan infak dan sedekah secara lebih tepat. Selain itu, pemahaman yang benar juga menunjukkan bahwa kesempatan untuk berbuat kebaikan tidak selalu bergantung pada banyaknya harta yang dimiliki. Berbagi dapat dilakukan melalui harta, tenaga, ilmu, maupun berbagai bentuk kebaikan lainnya.

Pengertian Infak dan Sedekah

Infak berasal dari kata Arab anfaqa yang bermakna mengeluarkan atau membelanjakan harta. Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, infak didefinisikan sebagai harta yang dikeluarkan oleh seseorang atau badan usaha di luar zakat untuk kemaslahatan umum. Pengertian tersebut juga digunakan BAZNAS dalam menjelaskan infak kepada masyarakat.

Dengan demikian, infak berkaitan erat dengan pemberian dalam bentuk harta. Infak dapat berupa uang, makanan, barang, atau bentuk kekayaan lain yang diberikan untuk kepentingan dan kemaslahatan.

Contohnya adalah menyisihkan sebagian penghasilan untuk membantu masyarakat kurang mampu, mendukung pendidikan anak dari keluarga prasejahtera, membantu pembangunan fasilitas sosial dan keagamaan, menyediakan kebutuhan pangan, atau membantu masyarakat yang terdampak bencana.

Allah SWT juga menggambarkan orang-orang bertakwa sebagai mereka yang tetap menginfakkan hartanya, baik ketika berada dalam keadaan lapang maupun sempit sebagaimana disebutkan dalam QS. Ali Imran ayat 134. Pesan tersebut menunjukkan bahwa infak tidak semata-mata berkaitan dengan jumlah harta yang diberikan, melainkan juga dengan kesediaan seseorang untuk berbagi sesuai kemampuannya.

Sedekah memiliki pengertian yang lebih luas. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011, sedekah merupakan harta atau nonharta yang dikeluarkan oleh seseorang atau badan usaha di luar zakat untuk kemaslahatan umum.

Artinya, sedekah tidak terbatas pada pemberian uang atau barang. Membantu orang lain dengan tenaga, membagikan ilmu yang bermanfaat, memberikan pertolongan kepada seseorang yang membutuhkan, berkata baik, dan berbagai tindakan kebajikan lainnya juga dapat termasuk dalam sedekah.

Rasulullah saw. bersabda bahwa setiap perbuatan baik merupakan sedekah. Ajaran ini memperlihatkan luasnya ruang bagi setiap orang untuk melakukan kebaikan. Seseorang yang belum mampu memberikan bantuan berupa harta tetap mempunyai kesempatan bersedekah melalui kemampuan yang dimilikinya.

Perbedaan Utama Infak dan Sedekah

Perbedaan utama antara infak dan sedekah terletak pada bentuk pemberiannya. Infak lebih khusus berkaitan dengan harta atau materi, sedangkan sedekah memiliki cakupan yang lebih luas karena dapat berbentuk materi maupun nonmateri.

Ketika seseorang memberikan sebagian penghasilannya untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, tindakan tersebut dapat disebut infak. Sementara itu, ketika seseorang membantu orang lain dengan tenaga, memberikan ilmu, atau melakukan perbuatan baik tanpa mengeluarkan harta, tindakan tersebut termasuk sedekah.

Dengan demikian, sedekah mempunyai ruang pengamalan yang lebih luas. Seseorang dapat bersedekah melalui hartanya, tetapi ia juga dapat bersedekah melalui tindakan dan kemampuan yang dimiliki.

Perbedaan ini sekaligus menunjukkan bahwa Islam membuka kesempatan berbuat baik bagi siapa saja. Kemampuan ekonomi bukan menjadi satu-satunya ukuran untuk dapat memberikan manfaat kepada orang lain.

Infak dan Sedekah dalam Kehidupan Sehari-hari

Infak dan sedekah dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Infak, misalnya, dapat dilakukan dengan menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu kebutuhan pangan keluarga kurang mampu, mendukung kegiatan pendidikan, membantu pelayanan kesehatan, menyediakan air bersih, atau memberikan bantuan kepada masyarakat yang terdampak bencana.

Sementara itu, sedekah dapat hadir dalam bentuk yang jauh lebih beragam. Membantu orang lanjut usia membawa barang, mengajarkan ilmu yang bermanfaat, menyediakan waktu untuk kegiatan sosial, membantu membersihkan lingkungan, memberikan makanan kepada orang yang membutuhkan, hingga berkata baik kepada orang lain merupakan bentuk kebaikan yang dapat bernilai sedekah.

Hal tersebut memperlihatkan bahwa budaya berbagi tidak perlu menunggu seseorang memiliki harta dalam jumlah besar. Kebaikan dapat dimulai dari kemampuan yang tersedia pada diri masing-masing.

Dalam konteks sosial, infak dan sedekah juga memiliki manfaat yang lebih luas daripada sekadar perpindahan harta dari pemberi kepada penerima. Dana yang dihimpun dan dikelola secara baik dapat mendukung berbagai program sosial, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 261 menggambarkan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir dan pada setiap bulir terdapat seratus biji. Perumpamaan tersebut menunjukkan bahwa sebuah kebaikan dapat berkembang dan memberikan manfaat yang jauh lebih luas.

Karena itu, infak dan sedekah sebaiknya dipahami bukan hanya sebagai aktivitas memberi, tetapi juga sebagai kebiasaan untuk menumbuhkan kepedulian sosial. Infak dapat dimulai dari sebagian rezeki yang dimiliki, sedangkan sedekah dapat diwujudkan melalui harta, tenaga, waktu, ilmu, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya. Meskipun memiliki cakupan yang berbeda, keduanya bertemu pada nilai yang sama, yaitu keikhlasan, kepedulian, dan keinginan menghadirkan manfaat bagi sesama.

 

24/09/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS PTK
Kapan Seseorang Wajib Membayar Zakat? Mengenal Nisab dan Haul

Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Selain menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, zakat juga memiliki peran sosial karena harta yang dikeluarkan dapat membantu memenuhi kebutuhan mereka yang berhak menerimanya.

Meski demikian, masih banyak masyarakat yang bertanya-tanya, kapan sebenarnya seseorang mulai wajib membayar zakat? Apakah setiap orang yang memiliki harta harus langsung mengeluarkan zakat? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada dua istilah penting yang perlu dipahami, yaitu nisab dan haul.

Mengenal Nisab dalam Zakat

Nisab adalah batas minimum harta yang menjadi salah satu syarat wajib zakat. Artinya, seseorang tidak serta-merta wajib membayar zakat hanya karena memiliki harta. Harta tersebut harus mencapai jumlah atau nilai tertentu sesuai dengan jenis zakatnya.

Besaran nisab berbeda-beda tergantung pada jenis harta yang dimiliki. Pada jenis harta tertentu, seperti emas dan harta simpanan, nisab berkaitan dengan nilai yang setara dengan 85 gram emas. Karena harga emas dapat berubah, nilai nisab dalam rupiah juga dapat berubah dari waktu ke waktu.

Oleh karena itu, masyarakat perlu memperhatikan nilai nisab yang berlaku ketika menghitung kewajiban zakat. Hal ini penting agar perhitungan zakat dilakukan berdasarkan ketentuan yang sesuai dengan kondisi pada saat zakat ditunaikan.

Apa Itu Haul?

Selain nisab, terdapat istilah haul, yaitu jangka waktu kepemilikan harta selama satu tahun hijriah yang menjadi salah satu syarat zakat untuk jenis harta tertentu.

Jika nisab berkaitan dengan jumlah atau nilai harta, maka haul berkaitan dengan jangka waktu kepemilikannya. Namun, perlu dipahami bahwa tidak semua jenis zakat mensyaratkan haul.

Misalnya, zakat pertanian memiliki ketentuan waktu pengeluaran yang berkaitan dengan hasil panen. Karena itu, anggapan bahwa semua zakat harus menunggu harta dimiliki selama satu tahun tidak sepenuhnya tepat.

Perbedaan Nisab dan Haul dalam Menentukan Kewajiban Zakat

Nisab dan haul sama-sama dapat menjadi bagian dari syarat wajib zakat, tetapi keduanya memiliki fungsi yang berbeda. Nisab menentukan apakah harta telah mencapai batas minimum yang mewajibkan zakat, sedangkan haul berkaitan dengan jangka waktu kepemilikan harta pada jenis zakat yang mensyaratkannya.

Sebagai contoh, seseorang mungkin memiliki sejumlah uang yang termasuk dalam objek zakat. Apabila jumlah tersebut belum mencapai nisab, maka belum memenuhi salah satu syarat wajib zakat. Sebaliknya, ketika harta telah mencapai nisab, perlu diperhatikan pula apakah jenis zakat tersebut mensyaratkan haul dan apakah jangka waktunya telah terpenuhi.

Kapan Seseorang Wajib Membayar Zakat?

Secara umum, seseorang perlu melihat beberapa hal sebelum menentukan apakah dirinya telah memiliki kewajiban zakat. Pertama, apakah harta yang dimiliki termasuk jenis harta yang wajib dizakati. Kedua, apakah harta tersebut telah mencapai nisab. Ketiga, apakah telah memenuhi haul apabila jenis zakat tersebut mensyaratkannya.

Dengan demikian, memiliki harta saja belum cukup untuk menentukan kewajiban zakat. Ketentuan yang berlaku perlu dilihat berdasarkan jenis zakat yang akan ditunaikan.

Masyarakat juga perlu memperhatikan bahwa setiap jenis zakat memiliki ketentuan yang berbeda. Zakat emas, zakat perdagangan, zakat penghasilan, zakat pertanian, dan jenis zakat lainnya tidak selalu memiliki persyaratan yang sama.

Ketentuan Haul pada Berbagai Jenis Zakat

Salah satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa tidak semua zakat harus menunggu harta dimiliki selama satu tahun. Haul hanya menjadi salah satu ketentuan pada jenis zakat tertentu.

Zakat pertanian, misalnya, berkaitan dengan hasil panen sehingga memiliki ketentuan waktu pengeluaran yang berbeda. Begitu pula zakat fitrah yang memiliki waktu penunaian tersendiri dan tidak didasarkan pada kepemilikan harta selama satu tahun.

Dengan demikian, masyarakat perlu melihat ketentuan berdasarkan jenis zakat yang akan ditunaikan, bukan menerapkan satu aturan yang sama kepada seluruh jenis zakat.

Zakat Penghasilan dalam Kehidupan Modern

Masyarakat saat ini memperoleh penghasilan melalui berbagai bentuk pekerjaan, seperti gaji, honorarium, upah, maupun pendapatan dari profesi lainnya. Karena itu, zakat penghasilan menjadi salah satu bentuk zakat yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Dalam menentukan kewajiban zakat penghasilan, masyarakat perlu memperhatikan ketentuan nisab dan kadar zakat yang berlaku. Zakat penghasilan umumnya dikenakan sebesar 2,5 % sesuai ketentuan yang menjadi rujukan.

Sebagai ilustrasi, apabila penghasilan yang menjadi dasar perhitungan zakat adalah Rp10 juta dan telah memenuhi ketentuan nisab, maka zakat sebesar 2,5 % adalah:

Rp10.000.000 × 2,5% = Rp250.000

Perhitungan zakat dapat bergantung pada ketentuan dan metode yang digunakan. Oleh karena itu, masyarakat dapat menggunakan kalkulator zakat atau berkonsultasi dengan lembaga pengelola zakat resmi seperti BAZNAS untuk memastikan perhitungannya.

Pentingnya Memahami Nisab dan Haul

Zakat bukan sekadar kewajiban untuk mengeluarkan sebagian harta, tetapi juga merupakan bentuk kepedulian kepada sesama. Agar pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan, penting bagi setiap Muslim untuk mengetahui jenis zakat yang menjadi kewajibannya serta memahami kapan kewajiban tersebut mulai berlaku.

Memahami nisab dan haul menjadi salah satu langkah penting untuk menunaikan zakat dengan tepat. Dengan pengetahuan yang baik, masyarakat dapat menjalankan ibadah zakat secara lebih sadar, terarah, dan sesuai dengan ketentuan syariat.

Pada akhirnya, zakat yang ditunaikan dengan tepat tidak hanya menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi mereka yang membutuhkan dan mendukung terwujudnya kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera.

21/09/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS PTK
Mengenal Tentang Zakat di BAZNAS

Tentang Zakat

zakat

Zakat adalah bagian tertentu dari harta yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim apabila telah mencapai syarat yang ditetapkan. Sebagai salah satu rukun Islam, Zakat ditunaikan untuk diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya (asnaf).

Zakat berasal dari bentuk kata "zaka" yang berarti suci, baik, berkah, tumbuh, dan berkembang. Dinamakan zakat, karena di dalamnya terkandung harapan untuk memperoleh berkah, membersihkan jiwa dan memupuknya dengan berbagai kebaikan (Fikih Sunnah, Sayyid Sabiq: 5)

Makna tumbuh dalam arti zakat menunjukkan bahwa mengeluarkan zakat sebagai sebab adanya pertumbuhan dan perkembangan harta, pelaksanaan zakat itu mengakibatkan pahala menjadi banyak. Sedangkan makna suci menunjukkan bahwa zakat adalah mensucikan jiwa dari kejelekan, kebatilan, dan pensuci dari dosa-dosa.

Dalam Al-Quran disebutkan, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka” (QS. at-Taubah [9]: 103).

Menurut istilah dalam kitab al-Hâwî, al-Mawardi mendefinisikan zakat dengan nama pengambilan tertentu dari harta tertentu, menurut sifat-sifat tertentu dan untuk diberikan kepada golongan tertentu. Orang yang menunaikan zakat disebut Muzaki. Sedangkan orang yang menerima zakat disebut Mustahik.

Sementara menurut Peraturan Menteri Agama No. 52 Tahun 2014, Zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim atau badan usaha yang dimiliki oleh orang Islam untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya sesuai dengan syariat Islam.

Zakat dikeluarkan dari harta yang dimiliki. Akan tetapi, tidak semua harta terkena kewajiban zakat. Syarat dikenakannya zakat atas harta di antaranya:

  1. harta tersebut merupakan barang halal dan diperoleh dengan cara yang halal;
  2. harta tersebut dimiliki penuh oleh pemiliknya;
  3. harta tersebut merupakan harta yang dapat berkembang;
  4. harta tersebut mencapai nishab sesuai jenis hartanya;
  5. harta tersebut melewati haul; dan
  6. pemilik harta tidak memiliki hutang jangka pendek yang harus dilunasi.

Asnaf (8 Golongan) Penerima Zakat

Asnaf Zakat

Sebagai instrumen yang masuk dalam salah satu Rukun Islam, zakat tentu saja memiliki aturan mengikat dari segi ilmu fiqihnya, salah satu diantaranya adalah kepada siapa zakat diberikan.

Dalam QS. At-Taubah ayat 60, Allah memberikan ketentuan ada delapan golongan orang yang menerima zakat yaitu sebagai berikut:

  1. Fakir, mereka yang hampir tidak memiliki apa-apa sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok hidup.
  2. Miskin, mereka yang memiliki harta namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar kehidupan.
  3. Amil, mereka yang mengumpulkan dan mendistribusikan zakat.
  4. Mualaf, mereka yang baru masuk Islam dan membutuhkan bantuan untuk menguatkan dalam tauhid dan syariah.
  5. Riqab, budak atau hamba sahaya yang ingin memerdekakan dirinya.
  6. Gharimin, mereka yang berhutang untuk kebutuhan hidup dalam mempertahankan jiwa dan izzahnya.
  7. Fisabilillah, mereka yang berjuang di jalan Allah dalam bentuk kegiatan dakwah, jihad dan sebagainya.
  8. Ibnu Sabil, mereka yang kehabisan biaya di perjalanan dalam ketaatan kepada Allah.

Jenis Zakat

Tentang Jenis-Jenis Zakat

Secara umum zakat terbagi menjadi dua jenis, yakni zakat fitrah dan zakat mal. Zakat Fitrah (zakat al-fitr) adalah zakat yang diwajibkan atas setiap jiwa baik lelaki dan perempuan muslim yang dilakukan pada bulan Ramadhan.

Zakat mal adalah zakat yang dikenakan atas segala jenis harta, yang secara zat maupun substansi perolehannya, tidak bertentangan dengan ketentuan agama. Sebagai contoh, zakat mal terdiri atas uang, emas, surat berharga, penghasilan profesi, dan lain-lain, sebagaimana yang terdapat dalam UU No. 23/2011 tentang Pengelolaan Zakat, Peraturan Menteri Agama No. 52 Tahun 2014 yang telah diubah dua kali dengan perubahan kedua adalah Peraturan Menteri Agama No. 31/2019, dan pendapat Syaikh Dr. Yusuf Al-Qardhawi serta para ulama lainnya.

Zakat mal sebagaimana dimaksud pada paragraf di atas meliputi:

1. Zakat emas, perak, dan logam mulia lainnya
  Adalah zakat yang dikenakan atas emas, perak, dan logam lainnya yang telah mencapai nisab dan haul.
2. Zakat atas uang dan surat berharga lainnya
  Adalah zakat yang dikenakan atas uang, harta yang disetarakan dengan uang, dan surat berharga lainnya yang telah mencapai nisab dan haul.
3. Zakat perniagaan
  Adalah zakat yang dikenakan atas usaha perniagaan yang telah mencapai nisab dan haul.
4. Zakat pertanian, perkebunan, dan kehutanan
  Adalah zakat yang dikenakan atas hasil pertanian, perkebunan dan hasil hutan pada saat panen.
5. Zakat peternakan dan perikanan
  Adalah zakat yang dikenakan atas binatang ternak dan hasil perikanan yang telah mencapai nisab dan haul.
6. Zakat pertambangan
  Adalah zakat yang dikenakan atas hasil usaha pertambangan yang telah mencapai nisab dan haul.
7. Zakat perindustrian
  Adalah zakat atas usaha yang bergerak dalam bidang produksi barang dan jasa.
8. Zakat pendapatan dan jasa
  Adalah zakat yang dikeluarkan dari penghasilan yang diperoleh dari hasil profesi pada saat menerima pembayaran, zakat ini dikenal juga sebagai zakat profesi atau zakat penghasilan.
9. Zakat rikaz
  Adalah zakat yang dikenakan atas harta temuan, dimana kadar zakatnya adalah 20%.

Syarat Zakat Mal dan Zakat Fitrah:

Zakat mal wajib dikeluarkan atas harta yang dimiliki seseorang jika memenuhi syarat tertentu sesuai syariat Islam. Berikut adalah syarat-syarat untuk mengeluarkan zakat mal:

1. Harta yang dikenai zakat harus memenuhi syarat sesuai dengan ketentuan syariat Islam.
2. Syarat harta yang dikenakan zakat mal sebagai berikut:
a. milik penuh  
b. halal  
c. cukup nisab  
d. haul  
3. Hanya saja, syarat haul tidak berlaku untuk zakat pertanian, perkebunan dan kehutanan, perikanan, pendapatan dan jasa, serta zakat rikaz.

Sedangkan untuk syarat zakat fitrah sebagai berikut:

  1. beragama Islam
  2. hidup pada saat bulan ramadhan;
  3. memiliki kelebihan kebutuhan pokok untuk malam dan hari raya idul fitri;

(Sumber: Al Qur'an Surah Al Baqarah ayat 267, Peraturan Menteri Agama Nomor 31 Tahun 2019, Fatwa MUI Nomor 3 Tahun 2003, dan pendapat Shaikh Yusuf Qardawi).

Untuk memperdalam pemahaman Anda tentang zakat, termasuk ketentuan, syarat, dan tata cara pengelolaannya, kami mengundang Anda untuk menonton video berikut yang menyajikan penjelasan lengkap dan terpercaya.

Untuk mengetahui informasi lainnya terkait zakat, simak video berikut.


Cara Membayar Zakat di BAZNAS

Cara Bayar Zakat

Menunaikan zakat melalui BAZNAS tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga berkontribusi langsung pada program pemberdayaan masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, dan kemaslahatan umat.

Dengan kemajuan teknologi, proses pembayaran zakat kini semakin praktis, baik secara online maupun offline. Berikut ini adalah panduan cara membayar zakat di BAZNAS:

1. Menghitung Nisab Zakat

Untuk memastikan perhitungan zakat yang akurat dan sesuai ketentuan syariah, BAZNAS menyediakan fitur Kalkulator Zakat yang dirancang untuk mempermudah umat Islam dalam menentukan jumlah zakat yang wajib ditunaikan.

Fitur ini dapat diakses dengan mudah melalui situs resmi BAZNAS, sehingga memberikan kemudahan dan kepastian dalam menjalankan kewajiban zakat. 

2. Bayar Zakat Online Melalui Website BAZNAS

Setelah menghitung jumlah zakat Anda dengan Kalkulator Zakat, segera kunjungi https://kotapontianak.baznas.go.id/bayarzakat untuk memilih jenis zakat yang ingin ditunaikan. Prosesnya cepat, otomatis tanpa memerlukan konfirmasi tambahan, dan sesuai dengan ketentuan syariah.

3. Transfer Langsung ke Rekening Zakat BAZNAS

Selain melalui situs resmi BAZNAS, Anda dapat menunaikan zakat dengan melakukan transfer langsung ke rekening baznas. Setelah itu, lakukan konfirmasi pembayaran zakat melalui WA : 082 117 700 100.

18/09/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS PTK
Mengenal apa itu Zakat Profesi?

Zakat Penghasilan

Zakat Penghasilan atau yang dikenal juga sebagai Zakat Pendapatan adalah bagian dari zakat mal yang wajib dikeluarkan atas harta yang berasal dari pendapatan atau penghasilan rutin dari pekerjaan yang tidak melanggar syariah. Nisab zakat penghasilan sebesar 85 gram emas per tahun dengan kadar zakat penghasilan senilai 2,5%.

Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjelaskan, penghasilan yang dimaksud ialah setiap pendapatan seperti gaji, honorarium, upah, jasa, dan lain-lainnya yang diperoleh dengan cara halal, baik rutin seperti pejabat negara, pegawai, karyawan, maupun tidak rutin seperti dokter, pengacara, dan konsultan, serta penghasilan dari pekerjaan bebas lainnya.

Nishab dan Kadar Zakat Penghasilan

Zakat penghasilan dikeluarkan dari harta yang dimiliki pada saat penghasilan diterima oleh seseorang yang sudah wajib zakat.

Seseorang dikatakan sudah wajib menunaikan zakat penghasilan apabila ia pendapatannya telah mencapai nisab zakat penghasilan sebesar 85 gram emas per tahun. Hal ini juga dikuatkan dalam SK Ketua BAZNAS Nomor 15 Tahun 2026 Tentang Nilai Nisab Zakat Pendapatan dan Jasa Tahun 2026, bahwa;

Nilai nisab zakat penghasilan dan jasa tahun 2026 senilai 85 (delapan puluh lima) gram emas atau setara dengan Rp91.681.728,00/tahun (sembilan puluh satu juta enam ratus delapan puluh satu ribu tujuh ratus dua puluh delapan rupiah per tahun), atau Rp7.640.144,00/bulan (tujuh juta enam ratus empat puluh ribu seratus empat puluh empat rupiah per bulan) jika ditunaikan setiap bulan.

Penetapan nisab ini mengacu pada harga emas 14 karat dengan nilai setara 85 gram emas, sehingga menghasilkan angka Rp91.681.728 per tahun atau Rp7.640.144 per bulan. Harga diperoleh dari harga rata-rata emas selama tahun 2025. Angka tersebut menjadi standar batas minimal penghasilan bagi seorang muslim untuk dikenai kewajiban zakat sebesar 2,5 persen.

Penetapan emas 14 karat masih selaras dengan regulasi yang berlaku saat ini. Dalam PMA Nomor 31 Tahun 2019 tidak diatur secara spesifik mengenai jenis karat emas, sehingga pada tataran implementasi BAZNAS diberikan kewenangan untuk menetapkan standar jenis karat atas 85 gram emas dengan tetap mempertimbangkan aspek kemaslahatan mustahik.

Dalam praktiknya, zakat penghasilan dapat ditunaikan setiap bulan dengan nilai nisab perbulannya setara dengan nilai seperduabelas dari 85 gram emas (seperti nilai yang tertera di atas) dengan kadar 2,5%. Jadi apabila penghasilan setiap bulan telah melebihi nilai nisab bulanan, maka wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5% dari penghasilannya tersebut.

Ada banyak jenis profesi dengan pembayaran rutin maupun tidak, dengan penghasilan sama dan tidak dalam setiap bulannya. Jika penghasilan dalam 1 bulan tidak mencapai nisab, maka hasil penghasilan selama 1 tahun dikumpulkan atau dihitung, kemudian zakat ditunaikan jika penghasilan bersihnya sudah cukup nisab.

Nishab Zakat Penghasilan 85 gram emas
Kadar Zakat Penghasilan 2,5%
Haul 1 tahun

Cara Menghitung Zakat Penghasilan

2,5% x Jumlah penghasilan dalam 1 bulan

Contoh:

Jika nilai nisab zakat penghasilan tahun 2026 ditetapkan sebesar Rp91.681.728 per tahun atau Rp7.640.144 per bulan, maka seseorang yang memiliki penghasilan melebihi angka tersebut sudah wajib menunaikan zakat penghasilan sebesar 2,5%.

Misalnya, penghasilan Bapak Fulan sebesar Rp10.000.000 per bulan, atau Rp120.000.000 dalam satu tahun. Karena penghasilan tersebut telah melampaui nisab bulanan (Rp7.640.144), maka Bapak Fulan sudah wajib zakat.

Perhitungan zakatnya adalah sebagai berikut:

2,5% x Rp10.000.000 = Rp250.000

Dengan demikian, zakat penghasilan yang perlu ditunaikan Bapak Fulan adalah Rp250.000 setiap bulan.

Apabila dihitung secara tahunan:

2,5% x Rp120.000.000 = Rp3.000.000 per tahun

Niat Zakat Penghasilan

Niat Zakat

Cara Membayar Zakat di BAZNAS

Cara Membayar Zakat di BAZNAS

Menunaikan zakat melalui BAZNAS tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga berkontribusi langsung pada program pemberdayaan masyarakat seperti pendidikan, kesehatan, dan kemaslahatan umat.

Dengan kemajuan teknologi, proses pembayaran zakat kini semakin praktis, baik secara online maupun offline. Berikut ini adalah panduan cara membayar zakat di BAZNAS:

1. Menghitung Nisab Zakat

Untuk memastikan perhitungan zakat yang akurat dan sesuai ketentuan syariah, BAZNAS menyediakan fitur Kalkulator Zakat yang dirancang untuk mempermudah umat Islam dalam menentukan jumlah zakat yang wajib ditunaikan.

Fitur ini dapat diakses dengan mudah melalui situs resmi BAZNAS, sehingga memberikan kemudahan dan kepastian dalam menjalankan kewajiban zakat. Akses Kalkulator Zakat di sini!

2. Bayar Zakat Online Melalui Website BAZNAS

Setelah menghitung jumlah zakat Anda dengan Kalkulator Zakat, segera kunjungi kotapontianak.baznas.go.id, untuk memilih jenis zakat yang ingin ditunaikan. Prosesnya cepat, otomatis tanpa memerlukan konfirmasi tambahan, dan sesuai dengan ketentuan syariah.

3. Transfer Langsung ke Rekening Zakat BAZNAS

Selain melalui situs resmi BAZNAS, Anda dapat menunaikan zakat dengan melakukan transfer langsung ke Rekening BAZNAS https://kotapontianak.baznas.go.id/rekening. Setelah itu, lakukan konfirmasi pembayaran zakat melalui WA/ 082 117 700 100.

18/09/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS PTK

Artikel Terbaru

Infak dan Sedekah, Apa Bedanya?
Infak dan Sedekah, Apa Bedanya?
Infak dan sedekah merupakan dua istilah yang sangat dekat dengan kehidupan umat Islam. Keduanya sama-sama mencerminkan kepedulian, keikhlasan, dan semangat berbagi kepada sesama. Meski sering digunakan secara berdampingan, infak dan sedekah memiliki pengertian serta cakupan yang berbeda. Memahami perbedaan keduanya penting agar masyarakat dapat mengamalkan infak dan sedekah secara lebih tepat. Selain itu, pemahaman yang benar juga menunjukkan bahwa kesempatan untuk berbuat kebaikan tidak selalu bergantung pada banyaknya harta yang dimiliki. Berbagi dapat dilakukan melalui harta, tenaga, ilmu, maupun berbagai bentuk kebaikan lainnya. Pengertian Infak dan Sedekah Infak berasal dari kata Arab anfaqa yang bermakna mengeluarkan atau membelanjakan harta. Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, infak didefinisikan sebagai harta yang dikeluarkan oleh seseorang atau badan usaha di luar zakat untuk kemaslahatan umum. Pengertian tersebut juga digunakan BAZNAS dalam menjelaskan infak kepada masyarakat. Dengan demikian, infak berkaitan erat dengan pemberian dalam bentuk harta. Infak dapat berupa uang, makanan, barang, atau bentuk kekayaan lain yang diberikan untuk kepentingan dan kemaslahatan. Contohnya adalah menyisihkan sebagian penghasilan untuk membantu masyarakat kurang mampu, mendukung pendidikan anak dari keluarga prasejahtera, membantu pembangunan fasilitas sosial dan keagamaan, menyediakan kebutuhan pangan, atau membantu masyarakat yang terdampak bencana. Allah SWT juga menggambarkan orang-orang bertakwa sebagai mereka yang tetap menginfakkan hartanya, baik ketika berada dalam keadaan lapang maupun sempit sebagaimana disebutkan dalam QS. Ali Imran ayat 134. Pesan tersebut menunjukkan bahwa infak tidak semata-mata berkaitan dengan jumlah harta yang diberikan, melainkan juga dengan kesediaan seseorang untuk berbagi sesuai kemampuannya. Sedekah memiliki pengertian yang lebih luas. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011, sedekah merupakan harta atau nonharta yang dikeluarkan oleh seseorang atau badan usaha di luar zakat untuk kemaslahatan umum. Artinya, sedekah tidak terbatas pada pemberian uang atau barang. Membantu orang lain dengan tenaga, membagikan ilmu yang bermanfaat, memberikan pertolongan kepada seseorang yang membutuhkan, berkata baik, dan berbagai tindakan kebajikan lainnya juga dapat termasuk dalam sedekah. Rasulullah saw. bersabda bahwa setiap perbuatan baik merupakan sedekah. Ajaran ini memperlihatkan luasnya ruang bagi setiap orang untuk melakukan kebaikan. Seseorang yang belum mampu memberikan bantuan berupa harta tetap mempunyai kesempatan bersedekah melalui kemampuan yang dimilikinya. Perbedaan Utama Infak dan Sedekah Perbedaan utama antara infak dan sedekah terletak pada bentuk pemberiannya. Infak lebih khusus berkaitan dengan harta atau materi, sedangkan sedekah memiliki cakupan yang lebih luas karena dapat berbentuk materi maupun nonmateri. Ketika seseorang memberikan sebagian penghasilannya untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, tindakan tersebut dapat disebut infak. Sementara itu, ketika seseorang membantu orang lain dengan tenaga, memberikan ilmu, atau melakukan perbuatan baik tanpa mengeluarkan harta, tindakan tersebut termasuk sedekah. Dengan demikian, sedekah mempunyai ruang pengamalan yang lebih luas. Seseorang dapat bersedekah melalui hartanya, tetapi ia juga dapat bersedekah melalui tindakan dan kemampuan yang dimiliki. Perbedaan ini sekaligus menunjukkan bahwa Islam membuka kesempatan berbuat baik bagi siapa saja. Kemampuan ekonomi bukan menjadi satu-satunya ukuran untuk dapat memberikan manfaat kepada orang lain. Infak dan Sedekah dalam Kehidupan Sehari-hari Infak dan sedekah dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Infak, misalnya, dapat dilakukan dengan menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu kebutuhan pangan keluarga kurang mampu, mendukung kegiatan pendidikan, membantu pelayanan kesehatan, menyediakan air bersih, atau memberikan bantuan kepada masyarakat yang terdampak bencana. Sementara itu, sedekah dapat hadir dalam bentuk yang jauh lebih beragam. Membantu orang lanjut usia membawa barang, mengajarkan ilmu yang bermanfaat, menyediakan waktu untuk kegiatan sosial, membantu membersihkan lingkungan, memberikan makanan kepada orang yang membutuhkan, hingga berkata baik kepada orang lain merupakan bentuk kebaikan yang dapat bernilai sedekah. Hal tersebut memperlihatkan bahwa budaya berbagi tidak perlu menunggu seseorang memiliki harta dalam jumlah besar. Kebaikan dapat dimulai dari kemampuan yang tersedia pada diri masing-masing. Dalam konteks sosial, infak dan sedekah juga memiliki manfaat yang lebih luas daripada sekadar perpindahan harta dari pemberi kepada penerima. Dana yang dihimpun dan dikelola secara baik dapat mendukung berbagai program sosial, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat. Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 261 menggambarkan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir dan pada setiap bulir terdapat seratus biji. Perumpamaan tersebut menunjukkan bahwa sebuah kebaikan dapat berkembang dan memberikan manfaat yang jauh lebih luas. Karena itu, infak dan sedekah sebaiknya dipahami bukan hanya sebagai aktivitas memberi, tetapi juga sebagai kebiasaan untuk menumbuhkan kepedulian sosial. Infak dapat dimulai dari sebagian rezeki yang dimiliki, sedangkan sedekah dapat diwujudkan melalui harta, tenaga, waktu, ilmu, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya. Meskipun memiliki cakupan yang berbeda, keduanya bertemu pada nilai yang sama, yaitu keikhlasan, kepedulian, dan keinginan menghadirkan manfaat bagi sesama.
ARTIKEL24/09/2026 | Humas BAZNAS PTK
Kapan Seseorang Wajib Membayar Zakat? Mengenal Nisab dan Haul
Kapan Seseorang Wajib Membayar Zakat? Mengenal Nisab dan Haul
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Selain menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, zakat juga memiliki peran sosial karena harta yang dikeluarkan dapat membantu memenuhi kebutuhan mereka yang berhak menerimanya. Meski demikian, masih banyak masyarakat yang bertanya-tanya, kapan sebenarnya seseorang mulai wajib membayar zakat? Apakah setiap orang yang memiliki harta harus langsung mengeluarkan zakat? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada dua istilah penting yang perlu dipahami, yaitu nisab dan haul. Mengenal Nisab dalam Zakat Nisab adalah batas minimum harta yang menjadi salah satu syarat wajib zakat. Artinya, seseorang tidak serta-merta wajib membayar zakat hanya karena memiliki harta. Harta tersebut harus mencapai jumlah atau nilai tertentu sesuai dengan jenis zakatnya. Besaran nisab berbeda-beda tergantung pada jenis harta yang dimiliki. Pada jenis harta tertentu, seperti emas dan harta simpanan, nisab berkaitan dengan nilai yang setara dengan 85 gram emas. Karena harga emas dapat berubah, nilai nisab dalam rupiah juga dapat berubah dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, masyarakat perlu memperhatikan nilai nisab yang berlaku ketika menghitung kewajiban zakat. Hal ini penting agar perhitungan zakat dilakukan berdasarkan ketentuan yang sesuai dengan kondisi pada saat zakat ditunaikan. Apa Itu Haul? Selain nisab, terdapat istilah haul, yaitu jangka waktu kepemilikan harta selama satu tahun hijriah yang menjadi salah satu syarat zakat untuk jenis harta tertentu. Jika nisab berkaitan dengan jumlah atau nilai harta, maka haul berkaitan dengan jangka waktu kepemilikannya. Namun, perlu dipahami bahwa tidak semua jenis zakat mensyaratkan haul. Misalnya, zakat pertanian memiliki ketentuan waktu pengeluaran yang berkaitan dengan hasil panen. Karena itu, anggapan bahwa semua zakat harus menunggu harta dimiliki selama satu tahun tidak sepenuhnya tepat. Perbedaan Nisab dan Haul dalam Menentukan Kewajiban Zakat Nisab dan haul sama-sama dapat menjadi bagian dari syarat wajib zakat, tetapi keduanya memiliki fungsi yang berbeda. Nisab menentukan apakah harta telah mencapai batas minimum yang mewajibkan zakat, sedangkan haul berkaitan dengan jangka waktu kepemilikan harta pada jenis zakat yang mensyaratkannya. Sebagai contoh, seseorang mungkin memiliki sejumlah uang yang termasuk dalam objek zakat. Apabila jumlah tersebut belum mencapai nisab, maka belum memenuhi salah satu syarat wajib zakat. Sebaliknya, ketika harta telah mencapai nisab, perlu diperhatikan pula apakah jenis zakat tersebut mensyaratkan haul dan apakah jangka waktunya telah terpenuhi. Kapan Seseorang Wajib Membayar Zakat? Secara umum, seseorang perlu melihat beberapa hal sebelum menentukan apakah dirinya telah memiliki kewajiban zakat. Pertama, apakah harta yang dimiliki termasuk jenis harta yang wajib dizakati. Kedua, apakah harta tersebut telah mencapai nisab. Ketiga, apakah telah memenuhi haul apabila jenis zakat tersebut mensyaratkannya. Dengan demikian, memiliki harta saja belum cukup untuk menentukan kewajiban zakat. Ketentuan yang berlaku perlu dilihat berdasarkan jenis zakat yang akan ditunaikan. Masyarakat juga perlu memperhatikan bahwa setiap jenis zakat memiliki ketentuan yang berbeda. Zakat emas, zakat perdagangan, zakat penghasilan, zakat pertanian, dan jenis zakat lainnya tidak selalu memiliki persyaratan yang sama. Ketentuan Haul pada Berbagai Jenis Zakat Salah satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa tidak semua zakat harus menunggu harta dimiliki selama satu tahun. Haul hanya menjadi salah satu ketentuan pada jenis zakat tertentu. Zakat pertanian, misalnya, berkaitan dengan hasil panen sehingga memiliki ketentuan waktu pengeluaran yang berbeda. Begitu pula zakat fitrah yang memiliki waktu penunaian tersendiri dan tidak didasarkan pada kepemilikan harta selama satu tahun. Dengan demikian, masyarakat perlu melihat ketentuan berdasarkan jenis zakat yang akan ditunaikan, bukan menerapkan satu aturan yang sama kepada seluruh jenis zakat. Zakat Penghasilan dalam Kehidupan Modern Masyarakat saat ini memperoleh penghasilan melalui berbagai bentuk pekerjaan, seperti gaji, honorarium, upah, maupun pendapatan dari profesi lainnya. Karena itu, zakat penghasilan menjadi salah satu bentuk zakat yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Dalam menentukan kewajiban zakat penghasilan, masyarakat perlu memperhatikan ketentuan nisab dan kadar zakat yang berlaku. Zakat penghasilan umumnya dikenakan sebesar 2,5 % sesuai ketentuan yang menjadi rujukan. Sebagai ilustrasi, apabila penghasilan yang menjadi dasar perhitungan zakat adalah Rp10 juta dan telah memenuhi ketentuan nisab, maka zakat sebesar 2,5 % adalah: Rp10.000.000 × 2,5% = Rp250.000 Perhitungan zakat dapat bergantung pada ketentuan dan metode yang digunakan. Oleh karena itu, masyarakat dapat menggunakan kalkulator zakat atau berkonsultasi dengan lembaga pengelola zakat resmi seperti BAZNAS untuk memastikan perhitungannya. Pentingnya Memahami Nisab dan Haul Zakat bukan sekadar kewajiban untuk mengeluarkan sebagian harta, tetapi juga merupakan bentuk kepedulian kepada sesama. Agar pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan, penting bagi setiap Muslim untuk mengetahui jenis zakat yang menjadi kewajibannya serta memahami kapan kewajiban tersebut mulai berlaku. Memahami nisab dan haul menjadi salah satu langkah penting untuk menunaikan zakat dengan tepat. Dengan pengetahuan yang baik, masyarakat dapat menjalankan ibadah zakat secara lebih sadar, terarah, dan sesuai dengan ketentuan syariat. Pada akhirnya, zakat yang ditunaikan dengan tepat tidak hanya menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi mereka yang membutuhkan dan mendukung terwujudnya kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera.
ARTIKEL21/09/2026 | Humas BAZNAS PTK
Mengenal Tentang Zakat di BAZNAS
Mengenal Tentang Zakat di BAZNAS
zakat Zakat adalah bagian tertentu dari harta yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim apabila telah mencapai syarat yang ditetapkan. Sebagai salah satu rukun Islam, Zakat ditunaikan untuk diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya (asnaf). Zakat berasal dari bentuk kata "zaka" yang berarti suci, baik, berkah, tumbuh, dan berkembang. Dinamakan zakat, karena di dalamnya terkandung harapan untuk memperoleh berkah, membersihkan jiwa dan memupuknya dengan berbagai kebaikan (Fikih Sunnah, Sayyid Sabiq: 5) Makna tumbuh dalam arti zakat menunjukkan bahwa mengeluarkan zakat sebagai sebab adanya pertumbuhan dan perkembangan harta, pelaksanaan zakat itu mengakibatkan pahala menjadi banyak. Sedangkan makna suci menunjukkan bahwa zakat adalah mensucikan jiwa dari kejelekan, kebatilan, dan pensuci dari dosa-dosa. Dalam Al-Quran disebutkan, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka” (QS. at-Taubah [9]: 103). Menurut istilah dalam kitab al-Hâwî, al-Mawardi mendefinisikan zakat dengan nama pengambilan tertentu dari harta tertentu, menurut sifat-sifat tertentu dan untuk diberikan kepada golongan tertentu. Orang yang menunaikan zakat disebut Muzaki. Sedangkan orang yang menerima zakat disebut Mustahik. Sementara menurut Peraturan Menteri Agama No. 52 Tahun 2014, Zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim atau badan usaha yang dimiliki oleh orang Islam untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya sesuai dengan syariat Islam. Zakat dikeluarkan dari harta yang dimiliki. Akan tetapi, tidak semua harta terkena kewajiban zakat. Syarat dikenakannya zakat atas harta di antaranya: harta tersebut merupakan barang halal dan diperoleh dengan cara yang halal; harta tersebut dimiliki penuh oleh pemiliknya; harta tersebut merupakan harta yang dapat berkembang; harta tersebut mencapai nishab sesuai jenis hartanya; harta tersebut melewati haul; dan pemilik harta tidak memiliki hutang jangka pendek yang harus dilunasi. Asnaf (8 Golongan) Penerima Zakat Sebagai instrumen yang masuk dalam salah satu Rukun Islam, zakat tentu saja memiliki aturan mengikat dari segi ilmu fiqihnya, salah satu diantaranya adalah kepada siapa zakat diberikan. Dalam QS. At-Taubah ayat 60, Allah memberikan ketentuan ada delapan golongan orang yang menerima zakat yaitu sebagai berikut: Fakir, mereka yang hampir tidak memiliki apa-apa sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok hidup. Miskin, mereka yang memiliki harta namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar kehidupan. Amil, mereka yang mengumpulkan dan mendistribusikan zakat. Mualaf, mereka yang baru masuk Islam dan membutuhkan bantuan untuk menguatkan dalam tauhid dan syariah. Riqab, budak atau hamba sahaya yang ingin memerdekakan dirinya. Gharimin, mereka yang berhutang untuk kebutuhan hidup dalam mempertahankan jiwa dan izzahnya. Fisabilillah, mereka yang berjuang di jalan Allah dalam bentuk kegiatan dakwah, jihad dan sebagainya. Ibnu Sabil, mereka yang kehabisan biaya di perjalanan dalam ketaatan kepada Allah. Jenis Zakat Secara umum zakat terbagi menjadi dua jenis, yakni zakat fitrah dan zakat mal. Zakat Fitrah (zakat al-fitr) adalah zakat yang diwajibkan atas setiap jiwa baik lelaki dan perempuan muslim yang dilakukan pada bulan Ramadhan. Zakat mal adalah zakat yang dikenakan atas segala jenis harta, yang secara zat maupun substansi perolehannya, tidak bertentangan dengan ketentuan agama. Sebagai contoh, zakat mal terdiri atas uang, emas, surat berharga, penghasilan profesi, dan lain-lain, sebagaimana yang terdapat dalam UU No. 23/2011 tentang Pengelolaan Zakat, Peraturan Menteri Agama No. 52 Tahun 2014 yang telah diubah dua kali dengan perubahan kedua adalah Peraturan Menteri Agama No. 31/2019, dan pendapat Syaikh Dr. Yusuf Al-Qardhawi serta para ulama lainnya. Zakat mal sebagaimana dimaksud pada paragraf di atas meliputi: 1. Zakat emas, perak, dan logam mulia lainnya Adalah zakat yang dikenakan atas emas, perak, dan logam lainnya yang telah mencapai nisab dan haul. 2. Zakat atas uang dan surat berharga lainnya Adalah zakat yang dikenakan atas uang, harta yang disetarakan dengan uang, dan surat berharga lainnya yang telah mencapai nisab dan haul. 3. Zakat perniagaan Adalah zakat yang dikenakan atas usaha perniagaan yang telah mencapai nisab dan haul. 4. Zakat pertanian, perkebunan, dan kehutanan Adalah zakat yang dikenakan atas hasil pertanian, perkebunan dan hasil hutan pada saat panen. 5. Zakat peternakan dan perikanan Adalah zakat yang dikenakan atas binatang ternak dan hasil perikanan yang telah mencapai nisab dan haul. 6. Zakat pertambangan Adalah zakat yang dikenakan atas hasil usaha pertambangan yang telah mencapai nisab dan haul. 7. Zakat perindustrian Adalah zakat atas usaha yang bergerak dalam bidang produksi barang dan jasa. 8. Zakat pendapatan dan jasa Adalah zakat yang dikeluarkan dari penghasilan yang diperoleh dari hasil profesi pada saat menerima pembayaran, zakat ini dikenal juga sebagai zakat profesi atau zakat penghasilan. 9. Zakat rikaz Adalah zakat yang dikenakan atas harta temuan, dimana kadar zakatnya adalah 20%. Syarat Zakat Mal dan Zakat Fitrah: Zakat mal wajib dikeluarkan atas harta yang dimiliki seseorang jika memenuhi syarat tertentu sesuai syariat Islam. Berikut adalah syarat-syarat untuk mengeluarkan zakat mal: 1. Harta yang dikenai zakat harus memenuhi syarat sesuai dengan ketentuan syariat Islam. 2. Syarat harta yang dikenakan zakat mal sebagai berikut: a. milik penuh b. halal c. cukup nisab d. haul 3. Hanya saja, syarat haul tidak berlaku untuk zakat pertanian, perkebunan dan kehutanan, perikanan, pendapatan dan jasa, serta zakat rikaz. Sedangkan untuk syarat zakat fitrah sebagai berikut: beragama Islam hidup pada saat bulan ramadhan; memiliki kelebihan kebutuhan pokok untuk malam dan hari raya idul fitri; (Sumber: Al Qur'an Surah Al Baqarah ayat 267, Peraturan Menteri Agama Nomor 31 Tahun 2019, Fatwa MUI Nomor 3 Tahun 2003, dan pendapat Shaikh Yusuf Qardawi). Untuk memperdalam pemahaman Anda tentang zakat, termasuk ketentuan, syarat, dan tata cara pengelolaannya, kami mengundang Anda untuk menonton video berikut yang menyajikan penjelasan lengkap dan terpercaya. Untuk mengetahui informasi lainnya terkait zakat, simak video berikut. Cara Membayar Zakat di BAZNAS Menunaikan zakat melalui BAZNAS tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga berkontribusi langsung pada program pemberdayaan masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, dan kemaslahatan umat. Dengan kemajuan teknologi, proses pembayaran zakat kini semakin praktis, baik secara online maupun offline. Berikut ini adalah panduan cara membayar zakat di BAZNAS: 1. Menghitung Nisab Zakat Untuk memastikan perhitungan zakat yang akurat dan sesuai ketentuan syariah, BAZNAS menyediakan fitur Kalkulator Zakat yang dirancang untuk mempermudah umat Islam dalam menentukan jumlah zakat yang wajib ditunaikan. Fitur ini dapat diakses dengan mudah melalui situs resmi BAZNAS, sehingga memberikan kemudahan dan kepastian dalam menjalankan kewajiban zakat. 2. Bayar Zakat Online Melalui Website BAZNAS Setelah menghitung jumlah zakat Anda dengan Kalkulator Zakat, segera kunjungi https://kotapontianak.baznas.go.id/bayarzakat untuk memilih jenis zakat yang ingin ditunaikan. Prosesnya cepat, otomatis tanpa memerlukan konfirmasi tambahan, dan sesuai dengan ketentuan syariah. 3. Transfer Langsung ke Rekening Zakat BAZNAS Selain melalui situs resmi BAZNAS, Anda dapat menunaikan zakat dengan melakukan transfer langsung ke rekening baznas. Setelah itu, lakukan konfirmasi pembayaran zakat melalui WA : 082 117 700 100.
ARTIKEL18/09/2026 | Humas BAZNAS PTK
Mengenal apa itu Zakat Profesi?
Mengenal apa itu Zakat Profesi?
Zakat Penghasilan Zakat Penghasilan atau yang dikenal juga sebagai Zakat Pendapatan adalah bagian dari zakat mal yang wajib dikeluarkan atas harta yang berasal dari pendapatan atau penghasilan rutin dari pekerjaan yang tidak melanggar syariah. Nisab zakat penghasilan sebesar 85 gram emas per tahun dengan kadar zakat penghasilan senilai 2,5%. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjelaskan, penghasilan yang dimaksud ialah setiap pendapatan seperti gaji, honorarium, upah, jasa, dan lain-lainnya yang diperoleh dengan cara halal, baik rutin seperti pejabat negara, pegawai, karyawan, maupun tidak rutin seperti dokter, pengacara, dan konsultan, serta penghasilan dari pekerjaan bebas lainnya. Nishab dan Kadar Zakat Penghasilan Zakat penghasilan dikeluarkan dari harta yang dimiliki pada saat penghasilan diterima oleh seseorang yang sudah wajib zakat. Seseorang dikatakan sudah wajib menunaikan zakat penghasilan apabila ia pendapatannya telah mencapai nisab zakat penghasilan sebesar 85 gram emas per tahun. Hal ini juga dikuatkan dalam SK Ketua BAZNAS Nomor 15 Tahun 2026 Tentang Nilai Nisab Zakat Pendapatan dan Jasa Tahun 2026, bahwa; Nilai nisab zakat penghasilan dan jasa tahun 2026 senilai 85 (delapan puluh lima) gram emas atau setara dengan Rp91.681.728,00/tahun (sembilan puluh satu juta enam ratus delapan puluh satu ribu tujuh ratus dua puluh delapan rupiah per tahun), atau Rp7.640.144,00/bulan (tujuh juta enam ratus empat puluh ribu seratus empat puluh empat rupiah per bulan) jika ditunaikan setiap bulan. Penetapan nisab ini mengacu pada harga emas 14 karat dengan nilai setara 85 gram emas, sehingga menghasilkan angka Rp91.681.728 per tahun atau Rp7.640.144 per bulan. Harga diperoleh dari harga rata-rata emas selama tahun 2025. Angka tersebut menjadi standar batas minimal penghasilan bagi seorang muslim untuk dikenai kewajiban zakat sebesar 2,5 persen. Penetapan emas 14 karat masih selaras dengan regulasi yang berlaku saat ini. Dalam PMA Nomor 31 Tahun 2019 tidak diatur secara spesifik mengenai jenis karat emas, sehingga pada tataran implementasi BAZNAS diberikan kewenangan untuk menetapkan standar jenis karat atas 85 gram emas dengan tetap mempertimbangkan aspek kemaslahatan mustahik. Dalam praktiknya, zakat penghasilan dapat ditunaikan setiap bulan dengan nilai nisab perbulannya setara dengan nilai seperduabelas dari 85 gram emas (seperti nilai yang tertera di atas) dengan kadar 2,5%. Jadi apabila penghasilan setiap bulan telah melebihi nilai nisab bulanan, maka wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5% dari penghasilannya tersebut. Ada banyak jenis profesi dengan pembayaran rutin maupun tidak, dengan penghasilan sama dan tidak dalam setiap bulannya. Jika penghasilan dalam 1 bulan tidak mencapai nisab, maka hasil penghasilan selama 1 tahun dikumpulkan atau dihitung, kemudian zakat ditunaikan jika penghasilan bersihnya sudah cukup nisab. Nishab Zakat Penghasilan 85 gram emas Kadar Zakat Penghasilan 2,5% Haul 1 tahun Cara Menghitung Zakat Penghasilan 2,5% x Jumlah penghasilan dalam 1 bulan Contoh: Jika nilai nisab zakat penghasilan tahun 2026 ditetapkan sebesar Rp91.681.728 per tahun atau Rp7.640.144 per bulan, maka seseorang yang memiliki penghasilan melebihi angka tersebut sudah wajib menunaikan zakat penghasilan sebesar 2,5%. Misalnya, penghasilan Bapak Fulan sebesar Rp10.000.000 per bulan, atau Rp120.000.000 dalam satu tahun. Karena penghasilan tersebut telah melampaui nisab bulanan (Rp7.640.144), maka Bapak Fulan sudah wajib zakat. Perhitungan zakatnya adalah sebagai berikut: 2,5% x Rp10.000.000 = Rp250.000 Dengan demikian, zakat penghasilan yang perlu ditunaikan Bapak Fulan adalah Rp250.000 setiap bulan. Apabila dihitung secara tahunan: 2,5% x Rp120.000.000 = Rp3.000.000 per tahun Niat Zakat Penghasilan Cara Membayar Zakat di BAZNAS Menunaikan zakat melalui BAZNAS tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga berkontribusi langsung pada program pemberdayaan masyarakat seperti pendidikan, kesehatan, dan kemaslahatan umat. Dengan kemajuan teknologi, proses pembayaran zakat kini semakin praktis, baik secara online maupun offline. Berikut ini adalah panduan cara membayar zakat di BAZNAS: 1. Menghitung Nisab Zakat Untuk memastikan perhitungan zakat yang akurat dan sesuai ketentuan syariah, BAZNAS menyediakan fitur Kalkulator Zakat yang dirancang untuk mempermudah umat Islam dalam menentukan jumlah zakat yang wajib ditunaikan. Fitur ini dapat diakses dengan mudah melalui situs resmi BAZNAS, sehingga memberikan kemudahan dan kepastian dalam menjalankan kewajiban zakat. Akses Kalkulator Zakat di sini! 2. Bayar Zakat Online Melalui Website BAZNAS Setelah menghitung jumlah zakat Anda dengan Kalkulator Zakat, segera kunjungi kotapontianak.baznas.go.id, untuk memilih jenis zakat yang ingin ditunaikan. Prosesnya cepat, otomatis tanpa memerlukan konfirmasi tambahan, dan sesuai dengan ketentuan syariah. 3. Transfer Langsung ke Rekening Zakat BAZNAS Selain melalui situs resmi BAZNAS, Anda dapat menunaikan zakat dengan melakukan transfer langsung ke Rekening BAZNAS https://kotapontianak.baznas.go.id/rekening. Setelah itu, lakukan konfirmasi pembayaran zakat melalui WA/ 082 117 700 100.
ARTIKEL18/09/2026 | Humas BAZNAS PTK
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Pontianak.

Lihat Daftar Rekening →